Monday, December 12, 2005





sebuah surat untuk baginda raja
Baginda rajakuw yang tercinta,

Kemarin seribu daun kering meniupku dan hanya menyisakan selembar angin dengan timbunan es yang mulai setengah mencair. Di atas lempengan tangan berbekas garis merah sisa tamparan maya yang menusuk sampai dasar lima jari.

Kemarin seribu daun kering meniupku dan hanya menyisakan selembar angin dengan timbunan es yang mulai setengah mencair. Di atas lempengan tangan berbekas garis merah sisa tamparan maya yang menusuk sampai dasar lima jari. Aku terus berjalan bersahabat dengan sang ratu psikopat yang semakin hari semakin sakit. Ragu ta’ ada dan hanya sebuah yakin bahwa ratuku akan sembuh semakin hari.

Kemarin seribu daun kering meniupku dan hanya menyisakan selembar angin dengan timbunan es yang mulai setengah mencair. Di atas lempengan tangan berbekas garis merah sisa tamparan maya yang menusuk sampai dasar lima jari. Kini kutinggalkan sang ratuku. Seribu dokter jiwa mengangkat tangan mereka, dan meninggalkan kami. Ratuku menancapkan sebuah pisau di jantungku. Nafasku hanya tingal satu dua hembusan. Ratuku berlari-lari mengelilingi taman, memainkan balon, dan menggeret boneka. Memuntir-muntir tali loncat, dan melemparkannya ke atas. Berloncat-loncat meraih udara dan berteriak-teriak dengan tawa lebar. Menggapai lukisan di tembok hunian kami, dan membantingnya ke lantai. Memungut beling dan menorehkan pada lenganku. Teriak sakit hanya sampai tenggorokan, dan senyum tawa lebar kupersembahkan pada ratuku.

Kemarin seribu daun kering meniupku dan hanya menyisakan selembar angin dengan timbunan es yang mulai setengah mencair. Di atas lempengan tangan berbekas garis merah sisa tamparan maya yang menusuk sampai dasar lima jari.

Jumat 9 des kantor jak 16.39

Friday, November 11, 2005

Jauh di lubuk hati terbersit kata ‘kan ku jelang…
Tak hendak menyambut namun inginnya memaksaku.
Ku coba tuk jalani, mungkin kali ini kutemukan ketulusan.
Kata demi kata terucap, tawa demi tawa terhambur, dan rayu demi rayu terserap.
Kurasakan semilir rindu dalam hati, terbersit kembali sebuah harap manis…
Sekejap semua terasa indah dan ku terbuai.
Sang waktu menentukan arti sebuah kejujuran, dan kutemukan kembali kepalsuan yang selalu merangkulku.
Kembali menjadi yang dulu dan sendiri…mungkin sudah jalan hidupku.

Hanya lelah yang terasa
Semakin kuat langkah terayun
Dan
Semakin keras waktu memaksa
ia semakin terpuruk
Pada cermin ia menatap sebuah raga
tanpa keinginan untuk meraih kekuatan

semua terus bergulir
mengganti usang menjadi baru
berjuang untuk setetes kebahagiaan
namun raga hanya dibaringkan tanpa bergeming
entah apa hendak sang pemilik

ketika sebuah lengan dijulurkan
ia berpaling dan
ketika lengan itu menjauh
ia meraung

terus berbaring tanpa asa
menunggu sesosok dalam kenangan
entah sampai kapan


(kamis 30 agustus 2001, 01.32 subuh, bdg)

Entah sampai kapan semua harus ku jalani begitu berat menggelayut di pundak ku
Setiap langkah terasa semakin membatu
Dan setiap mentari bergulir bulan ia semakin mengarat meninggalkan getir
Tlah ku julurkan lengan menuju langit kedamaian namun mega yang ku genggam
Kini hanya tinggal langkah kecil yang tersisa bersama dengan tangis ketidakberdayaan dan kepasrahan yang sarat pemberontakan


Jakarta,
sabtu 5 januari 2002
jam 11.16 malem

Detik

Detik-detik waktu merayap, berlari bersama langkah dahaga setiap jantung
dan aku memaksa tubuh ku menjajari waktu
meninggalkan semua kenangan tentang dirinya, mereka …
bergabung dalam gerombolan manusia-manusia kelaparan

kini ku hambakan nasib dan diri ku pada meja kehidupan
walau mereka terus menghembuskan udara kepahitan ku coba ‘tuk menahan
bersama dua tunggak yang kini tinggal sel-sel daging berdarah tanpa tulang

ku sunggingkan senyum di ujung bibir,
sambil terucap kata permohonan,
“Biarkan mereka bahagia dalam gelimang kemenangan atas kesengsaraan ku,
dan maka biarkan pula hati dan diri ku dingin beku membatu,
agar tiada lagi sembilu dan air mata”

Jakarta minggu 27 oktober 2002 jam 4.42 sore

& …
& … kini semua pun menjadi padu bercampur baur dalam sebuah cawan luas. Kesakitan, keperihan, kebosanan, kelelahan, semangat, dan ketakuatan yang optimis akan sesuatu namun belum tampak.
& … kepada siapa semua ini harus aku dongengkan. Seluruh dunia pun lelah melihat kekalutanku. Lalu di sini, di dalam raga yang sudah begitu ingin meludahkan seluruh isinya ke permukaan, yang terasa adalah sakit karena sebuah alur yang selalu tersumbat.
& … begitu ingin ku berdiri tegak lalu menceritakan lalu meneriakkan kepada semua yang pernah singgah dalam hidupku bahwa aku benci dan lelah menjadi sebuah pion dalam pencaturan kehidupan mereka.
& … aku saksikan mereka tertawa melihat ketersungkuranku. Dendam mereka yang terbalas. Karena aku menyayangi mereka dengan memenuhi seluruh relung hatiku.



Cinta ku pada mu
Lebih dalam dari lautan
Lebih luas dari hamparan
samudera
Lebih tinggi dari burung-burung yang melayang menuju angkasa
Lebih hangat dari birunya langit
Lebih indah dari rangkaian bintang
Kasih ku,
melebihi
Apapun



Kan ditempuh semua gunung dan lembah tinggi


Siang dan malam kan terjelang
Hanya tuk menanti setitik cinta pelita hati


Sebuah lilin abadi yang tak habis ditempa waktu

Cinta ku,

Hanya lewat sebuah tulisan tertuang rasa ku

Hanya dengan berbaris-baris kata ku ucap rindu ku …

Janji dan doa terus mengalir,

Mewakili jiwa ku yang semakin haus berharap belaian lembut mu

Cinta ku,

Malam-malam tetap sunyi

Abadi berselimutkan kebekuan

Menyanyikan lagu sepi

Seakan mengerti damba ku

Menemani rindu ku …

Hanya bagi diri mu … !

Cinta ku …

Je t’adore !!! …

Senin 31 Agustus 2002, jak, jam 12.19 malem

bunga terindah

masih kuat kurasakan
badai jiwa sarat pemberontakan
kekecewaan-kekecewaan membanjir tanpa jawaban
harapan yang hancur berkeping-keping hilang terbawa angin waktu
menyisakan rasa

semakin kuat kurasakan semilir dendam membelenggu hati
membalur raga
mengaliri rasa kalahku
memenjarakan semangatku

& kutatap sungai perak sunyi namun tersenyum membisiku: “bunga yang terlambat mekar adalah bunga yang paling indah di antara yang lain”

jak mg 8 nof 2002 jam 9.40 malam

Belum lama hitungan hari kemarin
Sebongkah harap berusaha menjanjikan damba ku
Untuk sesaat aku tersenyum
Dan mulai berharap

Dan semua
Kembali
Seperti biasa

Harusnya ku tahu
Bahagia bukan milik ku

Aku menangis lagi
Walau tlah lelah
Dan ta’ ada lagi sisa air mata

Memang ini lah takdir ku …


Jakarta September 20, 2002 jam 11.28 malem

Andai semua dapat kembali ke masa lalu…Andai mampu ku putar balik jarum waktu…Andai aku masih di beberapa tahun yang lalu…Mungkin senyum nya kini hanya milikku…,Mungkin lengan kokoh nya sedang merengkuhku kuat…,Mungkin kasih nya tertuang bagiku…Namun hanya sebatas mimpi…Yang tak pernah mungkin terwujud…

Berulangkali kucoba untuk menghilangkan semua kenangan…Berulangkali semua menjadi keping-keping kegagalan…

Tak mungkin ia pergi dari ku…Hanyalah sebuah omong kosong ketika beberapa hati datang mencoba meraihku…Seakan berjanji untuk membantuku melupakan dirinya
Dan aku kembali terpuruk, sendiri, dalam lembah kerinduan…

Semakin dalam ku kubur semua kenangan…Semakin kuat bayang nya melekat dalam nafas ku…

Ku memohon agar lepas dari semuanya…
Ku memohon…
Agar tenang ku langkahkan kaki menuju masa depan…
Mencari sepotong hati lain…

Aku terpuruk saat seseorang berniat mengisi hari ku dan menghapus kenangan pahit di masa lampau…
Perlahan namun pasti aku berpaling menuju dirinya

Kini yang ku lihat hanya aku yang kembali tersungkur
Jarak yang terbentang dan waktu yang terus berlari tidak mendengar teriakanku
membantu kepergiannya.
Hanya rindu yang kini ku rasa
tanpa daya untuk memenuhi dahaga ku.

Mungkinkah ia juga merasakannya?

Semakin hari ku cemas berharap semua kembali seperti dulu..
walau,
ia semakin melangkah meninggalkan diriku sendiri,
berkawan kenangan dan semua pertanyaan yang hingga saat ini tak kan pernah terjawab…

(minggu, 2 sept 2001, jam 20.04 malem, bdg)

Aku masih mendambakan mu, kasih ku …
Meski kau tak lagi menghiraukan aku

Sejuta malam bulan purnama bertkhta lautan perak masih terus ku puja
Demi angan dan mimpi yang telah ku gantungkan pada damba kehidupan ku

Langkah demi langkah pahit ku lalui
Nafas demi nafas rindu tetap ku hembuskan
Berharap kau kembali menyapa ku

Berbaris nama ‘tlah singgah pada pasir kehidupan ku
Pula tak terhiraukan seribu pasang lengan kokoh yang terjulur meraih ku
Menjanjikan hasrat cinta

Tetap ku mendambakan mu
‘tak kan sirna semua damba bisu yang telah tertanam kuat dalam jiwa ku

hanya kau yang ku ingin
hanya kau yang ku harap
karena
hanya kau yang ku rindukan …



senin 31 agustus 2002 jakarta jam 11.48 malem

Thursday, November 10, 2005

Aku ingin kau …
Kau !
Hanya kau … !

Bukan dia !
Bukan mereka !
Tetapi kau … !

Berhenti …
Berhenti dalam langkah mu …
Berhenti berlari dari ku … !

Karena aku tak miliki lagi daya
Karena aku kian lemah
Walau jiwa ku semakin kuat merindukan mu
Namun ragu kini mulai merayapi ku
Bertakhta kini seribu pertanyaan pada diriku:

Mungkin kah semua damba kan kelak bersenandung kemerduan wangi kehidupan
Mungkin kah harap ku pula milik mu …
Mungkin kah …
Mungkin kah …
Mungkin kah …

Dan semua kenangan,
masih kah milik mu,
aku,
kita berdua …



senin 31 agustus 2002 jakarta jam 11.59 malem

Tuesday, September 13, 2005


Rasanya wajar saja ketika seorang manusia memulai dan kemudian menjadi terus-menerus mempertanyakan siapa pasangan jiwanya yang akan mendampingi sepanjang sisa hidupnya kelak. Hanyalah berprofesi sebagai manusia, yang menurut kepercayaan bahwa semua dan setiap takdirnya adalah Tuhan yang menentukan, maka yang kuasa ia lakukan adalah memang hanya menjalani apa yang ada di hadapannya dan hanya menunggu detik-detik waktu yang terasa demikian lambat berjalan namun begitu meraja dalam menentukan jalan hidupnya, indah ataupun buruk.
Dan pernahkan manusia membayangkan apa jadinya sebongkah tanah luas nan indah yang merupakan tempat berteduh ini menjadi sebuah neraka ketika semua manusia menjadi tersiksa karena diserbu pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh serangkaian waktu yang merayap maju lambat tanpa sebuah kepastian.
Aku, adalah bagian dari kelompok yang hanya diwajibkan dan yang hanya mampu untuk menelusuri lorong hitam panjang tanpa ujung akhir kepastian tanpa kemampuan untuk meraba apalagi untuk mengetahui sebuah titik hitam atau putih yang menunggunya di ujung sebuah penantian. Kemudian aku menjadi semakin resah dan gundah karena semua itu. Semakin hari seiring dengan detik-detik waktu yang terus menggiring kehidupanku, kali itu aku menjadi gila, dan terus-menerus semakin gila, atas keinginan untuk berlari mencari lalu mengejar demi mengetahui warna akhir titik penantianku, yang kemudian tanpa aku dapat kendalikan tiba-tiba saja keinginan itu berubah menjadi sebuah teriakan petir menggelegar yang tak pernah bisa bahkan tak akan pernah kumiliki sebuah kesaktian untuk ku memamerkannya: hasrat kuat ku itu kepada dunia; semua hanya terendam dalam perpaduan lemahnya tubuhku, ringkihnya kemampuanku namun kuatnya birahi ku sebagai seorang manusia.
Sebuah senyum sedih penuh ketidakpastian dan ketidakmampuan pun menghias di wajahku, karena hingga saat ini kursi terbaik yang aku siapkan di pusat kehidupan tubuh ku, bahkan entah sampai kapan dan mungkin untuk seterusnya, tidak juga terisi. Mungkin lebih baik aku bangkit dari singgasana ku dan meninggalkan pasangan hampaku itu untuk selamanya karena kelelahan yang menjamur telah menjadi karat pedas di dalam hatiku.
Maka serta merta semua manusia hanya akan menyeringai iba, tersenyum, bahkan tertawa sinis, menyaksikan kegilaanku, mungkin karena tidak merasakan atau bahkan mungkin karena tidak akan pernah mengalami apa yang saat ini sedang aku geluti. Karena duniaku yang tercinta ini terdiri atas banyak bongkahan daging yang setiap bongkahnya memiliki keinginan dan warna kehidupan yang masing-masing berbeda.
Saat ini, setelah kegilaanku yang terus-menerus merongrong kehidupanku, lambat laun kurasakan kemunculan sebuah rasa, atas ketidakadilan terhadap jatah yang dunia berikan kepada masing-masing insane bernafas, yang mulai menyesakkan dadaku. Ketidakadilan yang menghasilkan sebuah pertanyaan, bahwa, bila sedikitnya sebagai manusia aku tidak berhak untuk mengetahui siapa ia, lalu apakah aku tidak cukup layak untuk sediki merabanya demi mengira-ngira, seperti yang sedang dan seperti yang telah dirasakan oleh manusia-manusia yang berkeliaran di sekelilingku…??? Yang aku temukan selama ini hanyalah melimpahnya harapan-harapan kosong yang tidak pernah terwujud, kesakitan-kesakitan yang entah sampai kapan masih terasa menusuk, bayangan-bayangan hitam yang terus melekat di seluruh lapisan kulit tubuh ku, sebuah malam yang tidak pernah aku temukan di dalamnya setetes embun pun dan tembok-tembok tebal yang demikian sulit untuk aku tembus.
Maka, walaupun penuh kewajaran ketika seorang manusia yang lemah berkhayal tentang seorang pasangan jiwa, namun aku, jangankan berkhayal tentang seorang pasangan jiwa masa depan, bahkan untuk saat ini pun, aku tak pernah mendapatkan jatah indah sebuah belaian kasih dari seorang pangeran seperti kisah-kisah di dalam dongeng, layaknya jatah yang telah digenggam oleh manusia-manusia lainnya. Aku hanya terus bergabung dalam barisan panjang yang rapih dan harus senantiasa patuh dalam antrian panjang yang terus maju untuk memperoleh tiket menuju ujung lorong penantian karena aku adalah kerikil halus yang merupakan bagian dari kelompok yang hanya berhak untuk menggantungkan harapan dan keinginan pada waktu serta pada yang telah digariskan oleh apa yang disebut dengan nasib atau takdir. Yang aku semai kemudian, sebuah hasil sempurna bernilai point 100 atas kepatuhan terhadap waktu dan kepatuhan terhadap takdir, yaitu seuntai tali tebal kuat yang merantai kedua pergelangan kakiku, sementara manusia yang lain berderap maju.
Siapa yang harus aku hukum karena kesalahan: waktu yang terasa demikian lambat berputar; takdir yang demikian gelap untuk diriku; ataukah bahkan diriku sendiri yang telah demikian dahaga, lelah, bosan dan perih pada sebuah penantian berkawan luka tanpa gerbang cahaya keemasan…??
Namun, terlalu berlebihankah atau bahkan tidak; atau terlalu salahkan atau bahkan tidak; serta terlalu wajarkah atau bahkan tidak, bahwa entah karena sebuah rasa optimis atau hanyalah karena sebuah kelelahan akan air mata yang kemudia berbunga menjadi setangkai mawar keputus asaan, bahwa saat ini aku masih berani berharap lalu bermimpi tentang sebuah raut wajah dan sebuah genggaman kuat namun lembut penuh kasih cinta yang mungkin akan aku miliki seperti halnya manusia lainnya. Untuk saat ini dan saat nanti…
Aku tak tahu, Kawan…..

[sebuah jawaban untuk seorang sahabat: APAKAH HIDUP HANYA UNTUK MENANTI KASIH SEJATI ???]


Apa kabar.?
rasanya memang seperti ini..aku sudah lama kenal kau. walaupun sudah lelah namun kembali lagi. Selamat datang! Benteng yang sudah tegak lalu runtuh lagi. Berkeping, menusuk setiap kaki yang melangkah, mengalirkan darah segar, membuat nanah dan membaui semua lalat-lalat pamangsa bangkai. Teriakan pun ta’ mampu menyatukan matahari dengan bulan. Hanya ada angin yang berhembus dan tertawa membahak. Lalu mendung yang menyumbangkan petir.
Berlari dan berjalan, pelan, cepat, terburu-buru
uraian rambut menyelimuti hati, bergerak pelan mengikuti irama langkah kaki, kadang setiap helainya memisahkan diri dari kelompoknya karena sapaan angin nasib dan polusi takdir
terus melangkah menemani embun-embun yang menitik pada sepasang pipi
embunnya yang menitik...apakah hatimu juga dipenuhi embun, seperti selimut tebal yang selalu menutupinya merenungi kehidupan hari tadi, dan lalu...
hanya ada penutup pilu yang membungkus hati dan keinginannya, rasa rindunya..
sudah lama ta’ hadir rasa itu. Tatap mata dan semua ternyata hanya kebohongan. Hanya ragu dan harus terbukti. Sudah. Ya, aku ingat. Terimakasih atas cinta busukmu.
Jak kantor 7sep 20.06


Sadarkah kalian kutukan yang melekat kuat pada kehidupan
Tentang arti sebuah cinta
Telah kualami semuanya
Berulang kali ku berada dalam cengkeraman kata cinta
Namun tak pernah ku rasakan sebuah indah dalam cawan manis
Ku habiskan waktu untuk lebih mengerti tentang itu semua, namun tak pernah ku temukan jawabannya

Tidak ada seorang yang mengatakan semua kepadaku
Seperti kini ku bercerita kepada dunia

Cinta tidak seindah kelihatannya
Tidak ada senyum hanya air mata
Dikelilingi oleh tangis bayi kecil, dan seorang suami yang harus dilayani setiap malam
Itulah cinta
Arti sesungguhnya dari keindahan surga kasih yang selama ini digambarkan

Tidak ada sebuah kecupan hangat di bawah sinar bulan purnama
Tidak ada sebuah pelukan mesra dinaungi hamparan lautan perak langit malam
Yang tersisa hanya sebuah kepedihan

Sunday, August 28, 2005

Mana yang duluan, Telor ato Ayam…???

Melepaskan penat setelah melakukan aktifitas seharian di luar rumah, atau ga tahu musti melakukan apa di akhir minggu, jawabannya adalah memegang remote control dan duduk di depan pesawat televisi mencari-cari acara yang disukai. Hiburan murah yang tidak mengeluarkan duit sepeserpun, dibandingkan dengan beli atau sewa vcd, atau pergi ke mall buat nonton atau shopping. Tetapi belum juga 5 menit tenggelam di acara favorit, kita sudah disuguhi iklan. Iklan apa pun itu. Iklan obat pusing, iklan sabun cuci, iklan kompor, iklan rokok, iklan obat kuat, iklan sepatu, sampai iklan pemilihan presiden, iklan layanan masyarakat dan iklan sinetron. Tangan kita lalu meraih remote, dan siap memindahkannya ke channel lain. Tapi lagi-lagi yang kita temukan adalah barisan iklan. Sepertinya mereka sudah punya perjanjian bahwa di jam-jam kesekian, menit-menit kesekian, dan di detik-detik kesekian mereka akan memuntahkan iklan. Setelah itu, baru acara kuis, sinetron, atau film-film India dilanjutkan secara bersamaan… Politik siap tempur pertelevisian untuk berlomba-lomba pamer kebolehan acara mereka…

Memang tidak ada yang bisa disalahkan, karena televisi tidak bisa dipisahkan dari iklan, dan iklan tidak bisa dipisahkan dari televisi. Saling bergantung dan saling menguntungkan secara ekonomi… Sama seperti saya, saya butuh televisi untuk ditonton acaranya, untuk hiburan gratis, walaupun sebenarnya tidak gratis total karena nonton tv juga butuh listrik, tapi at least gratis lah dibandingkan rentetan aktifitas di atas tadi… Televisi juga butuh saya, sebagai pemirsa, sebagai orang yang menyukai acaranya, untuk menambah-nambah jumlah ratting mereka, dan pada akhirnya duduk diam: nonton.. Lalu supaya semua insan terpenuhi kebutuhannya, terjadilah pemanfaatan moment, diselipkanlah iklan-iklan. Lalu permasalahannya apa..?

Bombardir iklan. Cukup duduk, jangan pindah channel waktu ada iklan, dan amati.

Masih ingat adegan iklan salah satu rokok, dimana seorang pegawai restoran yang sambil membuat adonan terbayang sedang memijat punggung seorang perempuan seksi di pinggir pantai? Iklan ini sempat mengundang kritikan ketika itu. Bagaimana tidak, iklan rokok ini sebenarnya kreatif, tapi sayang telah mendukung eksistensi laki-laki, dan menjadikan perempuan sebagai obyek seks. Saking gilanya pengaruh rasa nikmat yang bisa ditimbulkan rokok tersebut, sampai-sampai mampu membuat si pekerja restoran itu mengkhayal sedang mengulas tubuh perempuan, padahal sebetulnya adonan kue yang sedang digilasnya.

Cerita iklan shampoo. Dua perempuan bertemu dengan seorang teman perempuan yang sudah lama tidak bertemu, di sebuah counter pakaian sebuah mall. Perempuan yang satu ini sekarang cantik, rambutnya hitam, panjang dan indah terawat. “Belum punya anak sih, jadi punya waktu deh…” Kalimat itu yang terlontar karena mereka terpana menyaksikan satu temannya ini menjadi cantik. Lalu muncul seorang anak perempuan kecil yang ternyata anak perempuan cantik tersebut. Lalu sosok perempuan muda yang digambarkan sedang sedih karena teman laki-lakinya lebih tertarik pada perempuan lain yang kulitnya lebih putih pada iklan pelembab yang mengandung whitening. Selain menekan-nekankan soal kulit putih, iklan ini juga menekankan bahwa usaha mendapatkan kulit putih adalah untuk menyenangkan laki-laki. Citra yang muncul, perempuan yang cantik adalah perempuan berkulit putih, berambut hitam dan panjang. Perempuan seperti inilah yang akan selalu mendapat tempat eksklusif di mata para pria, bahkan masyarakat. Perempuan diharapkan mampu tampil menawan, berkarakter lembut, berkulit halus, pandai mengurus rumah tangga, memasak, mengurus anak, dan selalu mampu tampil prima untuk menyenangkan suami.

Ada juga iklan rapet kewanitaan. Gambaran sepasang pengantin yang baru menikah. Si pengantin perempuan disarankan memakai salah satu produk rapet kewanitaan, supaya rumah tangga terus bahagia. Di sini citra perempuan sebagai pemuas laki-laki sangat terasa. Tanggung jawab kebahagiaan dan kelanggengan rumah tangga sepenuhnya di pundak istri. Kalau sang suami menyeleweng, maka yang salah adalah si istri karena tidak bisa memuaskan di ranjang. Padahal ga juga kan?! Kalau suaminya memang mata keranjang dan doyan perempuan, ya ada aja tuh w.i.l. alias wanita idaman lain…

Seorang ibu muda yang kebingungan ketika anaknya sedang sakit batuk. Sang nenek sebagai tokoh penyelamat sampai datang walaupun malam itu sedang hujan. Memandang anak perempuannya dengan mata sebal, menyalahkan seakan-akan anak perempuannya ini tidak becus mengurus anak yang sebenarnya hanya sakit ringan: sakit batuk. Lagi-lagi memunculkan gambaran masyarakat bahwa hanya perempuan yang punya peran mengurus anak sakit. Perempuan menindas perempuan. Sang nenek disini sebagai wakil masyarakat, dan sang ibu sebagai wakil perempuan dalam komunitas masyarakat.

Lagi, iklan sebuah multivitamin. Si ibu pulang kerja, kelelahan karena aktivitas kantor yang menyita waktu dan tenaga. Sampai di rumah sudah tidak punya tenaga lagi mengurus rumah, anak, dan suami. Citra perempuan adalah pilar rumah tangga. Ia harus juga menjalankan tugas tradisional, walaupun sudah seharian punya keinginan wajar yaitu mewujudkan impian karirnya, atau keinginan mulia membantu sang suami memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Lagi-lagi perempuan harus menjadi super women. Serba bisa. Boleh punya impian karir setinggi langit, tapi tetap harus mengurus rumah juga. Tidak ada pembagian tugas yang adil dalam perkawinan.

Iklan sabun cuci yang selalu menggunakan perempuan sebagai tokoh utamanya. Iklan minyak goreng, iklan kompor yang selalu meletakkan perempuan selalu ada di dapur dan sangat akrab dengan tugas-tugas domestik. Iklan rokok yang selalu menampilkan laki-laki sebagai pejantan tangguh penikmat tembakau tersebut, padahal dari dulu juga tidak terhitung banyaknya perempuan yang termasuk dalam golongan penikmat asap, apalagi di dunia modern seperti sekarang ini…

Citra-citra iklan seperti itulah yang sering dilayangkan ke hadapan kita, bahwa semua iklan yang berhubungan dengan memasak, mengurus anak, rumah dan segala printilannya, menggunakan perempuan (istri) sebagai pelaku utama. Bila mau sukses perempuan harus selalu tampil cantik dan muda. Cuma perempuan yang punya tugas mengurus segala tetek bengek rumah tangga. Perempuan harus berupaya untuk cantik dan sehat untuk memperoleh persetujuan atau perhatian laki-laki dan masyarakat. Perempuan juga dicitrakan tidak menawan bila tidak menggunakan produk kecantikan, tidak tampil muda, tidak berkulit putih, tidak lembut, dan tidak langsing.

Citra laki-laki adalah jantan, kuat perkasa, pencari nafkah, pelindung, atau sebagai atasan.

Satu lagi, yang sering saya dengar dari nasehat nenek-kakek, saya tahu dari cerita-cerita jaman dahulu, atau saya baca dari karya-karya sastra era Sitti Nurbaya: setinggi-tingginya perempuan terbang, jatuhnya ya ke dapur (walaupun kalau jaman sekarang dapurnya bukan seperti dapur jaman nenek saya dulu, dapur modern dengan segala fasilitas, microwave, kulkas keren, tapi tetep aja judulnya ya dapur). Stereotip lama yang ternyata masih sukses hidup sampai abad ini…

Mau tidak mau, iklan memang tidak lepas dari konteks budaya masyarakatnya sendiri, terbentuk dari stereotip, pola pikir dan cara memandang masyarakat pada suatu hal. Bila itu memang terbukti benar adanya, ya maka memang seperti itulah citra perempuan di mata masyarakat (walaupun iklan cenderung melebih-lebihkan realitas). Dalam persaingan dagang yang terus-menerus ketat, bukan ga mungkin citra tersebut selalu digunakan untuk merangsang konsumen. Lalu? Semuanya kembali lagi kepada kita semua untuk bisa bersikap lebih kritis… Apakah mungkin stereotip bisa diubah, dan sebuah kerinduan para perempuan dapat diwujudkan menjadi penilaian dan penempatan sesuai dengan “prestasi” dan kapasitasnya sebagai manusia? Lalu mana dong yang harus dirubah lebih dulu, stereotip di masyarakat, ataukah citra di iklan…? Jawabannya sama sulitnya, ketika kita harus menjawab pertanyaan: Mana yang lebih dulu ada, telor ato ayam…???
(Shinta Larasati di Jakarta 15 Des 2004 20:20)

Wednesday, July 27, 2005

La rivière argent

Je suis en train de s’asseoir,
rêver,
se taisse seuleument,
sans parole,
sans avoir de puissance pour s’arrêter
le sentiment qui avait brulé …

Le feu dans mon coeur brule ancore,
qui chauffe le ciel bleu,
puis devient noir …
n’éteint pas
depuis
long temps,
jamais ..
et
la plaie ne recurire pas encore,
jamais …
Le sang coule,
ferme les oses,
comme une courant d’une rivière,
et on ne peut pas indiquer…
Il y a encore la peine,
il y a encore l’odeur rance,
quand ton couteau noir poignarde mon Coeur,
la plaie, le sang,
et le pus ne sechent jamais …

La rivière argent,
qu’est-ce que je dois faire ?
Je peux seuleument lever les yeux,
ne peut pas tuer,
n’a pas la puissance,
le sentiment qui est plus fort
et là, j’entend un rire,
très fort,
est-ce qu’il s’agit de moi ?
Une chanson qu’il avait chanté pour moi,
une épée qui me fait être blessuré …
et quand le Coeur devient rouge,
il marche sans regarder en arrière …



La rivière argent,
au secour …
m’emprunte ton brillant un instant,
puisque cette plaie guérisse,
m’arrose ta calme un instant,
puis que le feu dans mon Coeur éteigne …


jak rabu 4 sept 2002 jam 2.04 siang


Selasa dua puluh delapan september dua ribu dua sore empat tiga lima ku tatap langkah nya merayap menuju tempat ku mematung. Ku lihat senyum di lukisan alam wajah nya, dan sebaris sapa terlontar menuju diri ku, delapan bulan tanpa tatap muka. Ada gejolak rindu yang sangat kuat ku rasakan untuk sang kekasih hati ku. Tak kuasa memalingkan mata ku lempar jawab tanpa kejujuran, dan tak tahan pula menahan luapan pertanyaan yang telah bergelantungan di tenggorokan, ku tarik sosok nya mendekat bertumpu pada keangkuhan tembok tinggi panjang kekar.
Berdiam diri ia menatap diri ku tanpa kuasa mengeluarkan penjelasan yang ku mohon. Tanpa kehadiran sang pengertian sahabat terbaik selama menjadi kekasih nya, tanpa henti ku muntahkan pertanyaan tanpa jawaban panjang namun sulit bagi kekasih ku. Ku rasakan desiran usaha lelaki ku untuk memohon maaf dari ikatan rasa bersalah yang sedang ku kalungkan di tubuh nya. Dan seperti seorang pemburu biadab, tak kulepaskan buruan yang mulai masuk dalam perangkap. Sedikit demi sedikit hati ku mulai menangis, lagi, seperti yang selalu terjadi. Lelaki ku tidak bisa memuaskan dahaga pertanyaan percintaan ku. Ku dengar diri ku menjerit memohon keadilan. Tidak kah terpikir oleh tambatan hati ku, aku terus terseok selama ini menunggu cinta nya menyelubungi jiwa ku ?
Sebaris maaf berhamburan dari sepasang gelambir sang raja hati ku. Sedikit demi sedikit ku rasakan semilir rasa bersalah yang mengalir mengiringi perputaran udara di sekeliling kami berdua berdiri saling bertatapan. Sepasang penglihatannya tegak menelanjangi wujud ku, namun ku coba melawan arus ombak berbadai pejantan ku yang membasahi diriku sedari tadi, aku gagal. Lalu ku arahkan pandangan mata ku menuju lantai ubin trotoar kami berpijak.
Di akhir penantian selama menjadi wanita nya ku dengar seuntai kata-kata perubah kehidupan ku, bukan kehidupan nya. Seperti yang telah menaungi ku selama ini. Lalu semuanya berakhir.
Ku paksa kaki ku meninggalkan diri nya, dan semua kenangan yang telah ia balurkan di setiap relung hati ku.
Setangkai keabadian bunga kekecewaan. Hanya itu yang terangkai, selain permainan kata-kata yang telah meniduri ku selama ini. Dan memang ia lah sahabat sejati ku, beriring air mata dan rasa sakit. Selamanya…..
Rabu 30 september 2002 jam 00.21 pagi, jkt

Libère de tous

Je ne oublierai jamais,
ces yeux,
plein de jalousies,
comblé de chagrin …

Jamais oublierai,
ces yeux,
que je ne sais jamais
dans le Coeur profond j’étais blessé …

Je veux revenir à ma rue,
ma rue passé ,
sans douleur

Je vais jeter toutes malheureuses !
Je vais jeter mon Coeur blésse !
bien qu’ils croient ce ne finira jamais

J’ai fait les efforts pour comprendre
tous ces questions
de ce que je sentais
bien qu’il n’y avait pas de vagues
jusqu’à un jour tu m’ai aimé

Libère moi !
Libère de tous des chagrins
Jamais me préviens de voler
suivre la nuit et le matin

Il y a encore beaucoup d’espoir
pour moi …
pour moi …
pour moi …


jak rabu 4 sept 2002 jam 2.21 siang

Tuesday, July 26, 2005

menu utama restoran
Seperti sebuah papan dengan bujur sangkar hitam dan putih berselang letak, putih dikelilingi hitam dan hitam diputari putih
“Jalani saja karena sang ujung akan menampilkan wajahnya…”
tapi aku ingin ada kelabu, saat hitam bisa kuubah menjadi tidak hitam, dan putih kusihir bukan putih.
“Memangnya siapa kau? Pencipta dunia?”
“Aku penghuni! Tapi tidak ada hukuman pancung kan bagi penolak fakta???”
“Memang tidak ada, tapi tangga ke langit ke delapan tidak pernah terbaca di menu sajian. Hanya ada steak langit pertama, sampai french fries langit ketujuh. Jangan mimpi!”
“Fine! Kalau begitu aku mau orange jus kelima ku diganti menjadi udang rebus ketiga! Tapi karena aku tidak mau mati karena alergi seafood, sediakan juga tablet penolaknya!”
“Kau bukan Pemilik! Lebih baik hengkang, dan bawa semua milikmu sebelum security menyeretmu dengan gigi-gigi tajam herdernya!”
Aku tidak pernah salah karena menyayangimu sejak dulu namun terlalu sombong untuk mengakuinya, sampai sekarang! Aku tidak pernah salah karena sekarang sudah ada sebongkah daging leleh yang melumuri aku dengan minyak miliknya dan janjiku. Sekarang terlalu banyak daun kering yang siap menguliti aku bila kumohon angin malam bertiup hanya untuk kasih lalu dan kini milikku. Yang salah adalah mengapa aku harus menjadi diriku! Lemparkan untukku sebuah dadu dan mungkinkah sisi tanpa angka yang tersenyum???
Jak 26 april 05, 23.00

Ada Satu

Selama ini ku mencari
Siapa di mana dia
‘tak pernah henti bertanya hati
apa kemana melangkah kaki
pasti ada satu kekasih yang abadi
Tuhan tlah ciptakan seorang dewa untuk diriku


hanya untukku seorang …


mestinya ada satu
bagi diriku untuk berdua
selamanya …
ku yakin ada satu
tak ada ragu
di hatiku bila kamu terlahir untukku


hanya untukku seorang …



jak rabu 4 sept 2002, jam 11.47 siang