Wednesday, July 27, 2005

La rivière argent

Je suis en train de s’asseoir,
rêver,
se taisse seuleument,
sans parole,
sans avoir de puissance pour s’arrêter
le sentiment qui avait brulé …

Le feu dans mon coeur brule ancore,
qui chauffe le ciel bleu,
puis devient noir …
n’éteint pas
depuis
long temps,
jamais ..
et
la plaie ne recurire pas encore,
jamais …
Le sang coule,
ferme les oses,
comme une courant d’une rivière,
et on ne peut pas indiquer…
Il y a encore la peine,
il y a encore l’odeur rance,
quand ton couteau noir poignarde mon Coeur,
la plaie, le sang,
et le pus ne sechent jamais …

La rivière argent,
qu’est-ce que je dois faire ?
Je peux seuleument lever les yeux,
ne peut pas tuer,
n’a pas la puissance,
le sentiment qui est plus fort
et là, j’entend un rire,
très fort,
est-ce qu’il s’agit de moi ?
Une chanson qu’il avait chanté pour moi,
une épée qui me fait être blessuré …
et quand le Coeur devient rouge,
il marche sans regarder en arrière …



La rivière argent,
au secour …
m’emprunte ton brillant un instant,
puisque cette plaie guérisse,
m’arrose ta calme un instant,
puis que le feu dans mon Coeur éteigne …


jak rabu 4 sept 2002 jam 2.04 siang


Selasa dua puluh delapan september dua ribu dua sore empat tiga lima ku tatap langkah nya merayap menuju tempat ku mematung. Ku lihat senyum di lukisan alam wajah nya, dan sebaris sapa terlontar menuju diri ku, delapan bulan tanpa tatap muka. Ada gejolak rindu yang sangat kuat ku rasakan untuk sang kekasih hati ku. Tak kuasa memalingkan mata ku lempar jawab tanpa kejujuran, dan tak tahan pula menahan luapan pertanyaan yang telah bergelantungan di tenggorokan, ku tarik sosok nya mendekat bertumpu pada keangkuhan tembok tinggi panjang kekar.
Berdiam diri ia menatap diri ku tanpa kuasa mengeluarkan penjelasan yang ku mohon. Tanpa kehadiran sang pengertian sahabat terbaik selama menjadi kekasih nya, tanpa henti ku muntahkan pertanyaan tanpa jawaban panjang namun sulit bagi kekasih ku. Ku rasakan desiran usaha lelaki ku untuk memohon maaf dari ikatan rasa bersalah yang sedang ku kalungkan di tubuh nya. Dan seperti seorang pemburu biadab, tak kulepaskan buruan yang mulai masuk dalam perangkap. Sedikit demi sedikit hati ku mulai menangis, lagi, seperti yang selalu terjadi. Lelaki ku tidak bisa memuaskan dahaga pertanyaan percintaan ku. Ku dengar diri ku menjerit memohon keadilan. Tidak kah terpikir oleh tambatan hati ku, aku terus terseok selama ini menunggu cinta nya menyelubungi jiwa ku ?
Sebaris maaf berhamburan dari sepasang gelambir sang raja hati ku. Sedikit demi sedikit ku rasakan semilir rasa bersalah yang mengalir mengiringi perputaran udara di sekeliling kami berdua berdiri saling bertatapan. Sepasang penglihatannya tegak menelanjangi wujud ku, namun ku coba melawan arus ombak berbadai pejantan ku yang membasahi diriku sedari tadi, aku gagal. Lalu ku arahkan pandangan mata ku menuju lantai ubin trotoar kami berpijak.
Di akhir penantian selama menjadi wanita nya ku dengar seuntai kata-kata perubah kehidupan ku, bukan kehidupan nya. Seperti yang telah menaungi ku selama ini. Lalu semuanya berakhir.
Ku paksa kaki ku meninggalkan diri nya, dan semua kenangan yang telah ia balurkan di setiap relung hati ku.
Setangkai keabadian bunga kekecewaan. Hanya itu yang terangkai, selain permainan kata-kata yang telah meniduri ku selama ini. Dan memang ia lah sahabat sejati ku, beriring air mata dan rasa sakit. Selamanya…..
Rabu 30 september 2002 jam 00.21 pagi, jkt

Libère de tous

Je ne oublierai jamais,
ces yeux,
plein de jalousies,
comblé de chagrin …

Jamais oublierai,
ces yeux,
que je ne sais jamais
dans le Coeur profond j’étais blessé …

Je veux revenir à ma rue,
ma rue passé ,
sans douleur

Je vais jeter toutes malheureuses !
Je vais jeter mon Coeur blésse !
bien qu’ils croient ce ne finira jamais

J’ai fait les efforts pour comprendre
tous ces questions
de ce que je sentais
bien qu’il n’y avait pas de vagues
jusqu’à un jour tu m’ai aimé

Libère moi !
Libère de tous des chagrins
Jamais me préviens de voler
suivre la nuit et le matin

Il y a encore beaucoup d’espoir
pour moi …
pour moi …
pour moi …


jak rabu 4 sept 2002 jam 2.21 siang

Tuesday, July 26, 2005

menu utama restoran
Seperti sebuah papan dengan bujur sangkar hitam dan putih berselang letak, putih dikelilingi hitam dan hitam diputari putih
“Jalani saja karena sang ujung akan menampilkan wajahnya…”
tapi aku ingin ada kelabu, saat hitam bisa kuubah menjadi tidak hitam, dan putih kusihir bukan putih.
“Memangnya siapa kau? Pencipta dunia?”
“Aku penghuni! Tapi tidak ada hukuman pancung kan bagi penolak fakta???”
“Memang tidak ada, tapi tangga ke langit ke delapan tidak pernah terbaca di menu sajian. Hanya ada steak langit pertama, sampai french fries langit ketujuh. Jangan mimpi!”
“Fine! Kalau begitu aku mau orange jus kelima ku diganti menjadi udang rebus ketiga! Tapi karena aku tidak mau mati karena alergi seafood, sediakan juga tablet penolaknya!”
“Kau bukan Pemilik! Lebih baik hengkang, dan bawa semua milikmu sebelum security menyeretmu dengan gigi-gigi tajam herdernya!”
Aku tidak pernah salah karena menyayangimu sejak dulu namun terlalu sombong untuk mengakuinya, sampai sekarang! Aku tidak pernah salah karena sekarang sudah ada sebongkah daging leleh yang melumuri aku dengan minyak miliknya dan janjiku. Sekarang terlalu banyak daun kering yang siap menguliti aku bila kumohon angin malam bertiup hanya untuk kasih lalu dan kini milikku. Yang salah adalah mengapa aku harus menjadi diriku! Lemparkan untukku sebuah dadu dan mungkinkah sisi tanpa angka yang tersenyum???
Jak 26 april 05, 23.00

Ada Satu

Selama ini ku mencari
Siapa di mana dia
‘tak pernah henti bertanya hati
apa kemana melangkah kaki
pasti ada satu kekasih yang abadi
Tuhan tlah ciptakan seorang dewa untuk diriku


hanya untukku seorang …


mestinya ada satu
bagi diriku untuk berdua
selamanya …
ku yakin ada satu
tak ada ragu
di hatiku bila kamu terlahir untukku


hanya untukku seorang …



jak rabu 4 sept 2002, jam 11.47 siang