Tuesday, September 13, 2005


Rasanya wajar saja ketika seorang manusia memulai dan kemudian menjadi terus-menerus mempertanyakan siapa pasangan jiwanya yang akan mendampingi sepanjang sisa hidupnya kelak. Hanyalah berprofesi sebagai manusia, yang menurut kepercayaan bahwa semua dan setiap takdirnya adalah Tuhan yang menentukan, maka yang kuasa ia lakukan adalah memang hanya menjalani apa yang ada di hadapannya dan hanya menunggu detik-detik waktu yang terasa demikian lambat berjalan namun begitu meraja dalam menentukan jalan hidupnya, indah ataupun buruk.
Dan pernahkan manusia membayangkan apa jadinya sebongkah tanah luas nan indah yang merupakan tempat berteduh ini menjadi sebuah neraka ketika semua manusia menjadi tersiksa karena diserbu pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh serangkaian waktu yang merayap maju lambat tanpa sebuah kepastian.
Aku, adalah bagian dari kelompok yang hanya diwajibkan dan yang hanya mampu untuk menelusuri lorong hitam panjang tanpa ujung akhir kepastian tanpa kemampuan untuk meraba apalagi untuk mengetahui sebuah titik hitam atau putih yang menunggunya di ujung sebuah penantian. Kemudian aku menjadi semakin resah dan gundah karena semua itu. Semakin hari seiring dengan detik-detik waktu yang terus menggiring kehidupanku, kali itu aku menjadi gila, dan terus-menerus semakin gila, atas keinginan untuk berlari mencari lalu mengejar demi mengetahui warna akhir titik penantianku, yang kemudian tanpa aku dapat kendalikan tiba-tiba saja keinginan itu berubah menjadi sebuah teriakan petir menggelegar yang tak pernah bisa bahkan tak akan pernah kumiliki sebuah kesaktian untuk ku memamerkannya: hasrat kuat ku itu kepada dunia; semua hanya terendam dalam perpaduan lemahnya tubuhku, ringkihnya kemampuanku namun kuatnya birahi ku sebagai seorang manusia.
Sebuah senyum sedih penuh ketidakpastian dan ketidakmampuan pun menghias di wajahku, karena hingga saat ini kursi terbaik yang aku siapkan di pusat kehidupan tubuh ku, bahkan entah sampai kapan dan mungkin untuk seterusnya, tidak juga terisi. Mungkin lebih baik aku bangkit dari singgasana ku dan meninggalkan pasangan hampaku itu untuk selamanya karena kelelahan yang menjamur telah menjadi karat pedas di dalam hatiku.
Maka serta merta semua manusia hanya akan menyeringai iba, tersenyum, bahkan tertawa sinis, menyaksikan kegilaanku, mungkin karena tidak merasakan atau bahkan mungkin karena tidak akan pernah mengalami apa yang saat ini sedang aku geluti. Karena duniaku yang tercinta ini terdiri atas banyak bongkahan daging yang setiap bongkahnya memiliki keinginan dan warna kehidupan yang masing-masing berbeda.
Saat ini, setelah kegilaanku yang terus-menerus merongrong kehidupanku, lambat laun kurasakan kemunculan sebuah rasa, atas ketidakadilan terhadap jatah yang dunia berikan kepada masing-masing insane bernafas, yang mulai menyesakkan dadaku. Ketidakadilan yang menghasilkan sebuah pertanyaan, bahwa, bila sedikitnya sebagai manusia aku tidak berhak untuk mengetahui siapa ia, lalu apakah aku tidak cukup layak untuk sediki merabanya demi mengira-ngira, seperti yang sedang dan seperti yang telah dirasakan oleh manusia-manusia yang berkeliaran di sekelilingku…??? Yang aku temukan selama ini hanyalah melimpahnya harapan-harapan kosong yang tidak pernah terwujud, kesakitan-kesakitan yang entah sampai kapan masih terasa menusuk, bayangan-bayangan hitam yang terus melekat di seluruh lapisan kulit tubuh ku, sebuah malam yang tidak pernah aku temukan di dalamnya setetes embun pun dan tembok-tembok tebal yang demikian sulit untuk aku tembus.
Maka, walaupun penuh kewajaran ketika seorang manusia yang lemah berkhayal tentang seorang pasangan jiwa, namun aku, jangankan berkhayal tentang seorang pasangan jiwa masa depan, bahkan untuk saat ini pun, aku tak pernah mendapatkan jatah indah sebuah belaian kasih dari seorang pangeran seperti kisah-kisah di dalam dongeng, layaknya jatah yang telah digenggam oleh manusia-manusia lainnya. Aku hanya terus bergabung dalam barisan panjang yang rapih dan harus senantiasa patuh dalam antrian panjang yang terus maju untuk memperoleh tiket menuju ujung lorong penantian karena aku adalah kerikil halus yang merupakan bagian dari kelompok yang hanya berhak untuk menggantungkan harapan dan keinginan pada waktu serta pada yang telah digariskan oleh apa yang disebut dengan nasib atau takdir. Yang aku semai kemudian, sebuah hasil sempurna bernilai point 100 atas kepatuhan terhadap waktu dan kepatuhan terhadap takdir, yaitu seuntai tali tebal kuat yang merantai kedua pergelangan kakiku, sementara manusia yang lain berderap maju.
Siapa yang harus aku hukum karena kesalahan: waktu yang terasa demikian lambat berputar; takdir yang demikian gelap untuk diriku; ataukah bahkan diriku sendiri yang telah demikian dahaga, lelah, bosan dan perih pada sebuah penantian berkawan luka tanpa gerbang cahaya keemasan…??
Namun, terlalu berlebihankah atau bahkan tidak; atau terlalu salahkan atau bahkan tidak; serta terlalu wajarkah atau bahkan tidak, bahwa entah karena sebuah rasa optimis atau hanyalah karena sebuah kelelahan akan air mata yang kemudia berbunga menjadi setangkai mawar keputus asaan, bahwa saat ini aku masih berani berharap lalu bermimpi tentang sebuah raut wajah dan sebuah genggaman kuat namun lembut penuh kasih cinta yang mungkin akan aku miliki seperti halnya manusia lainnya. Untuk saat ini dan saat nanti…
Aku tak tahu, Kawan…..

[sebuah jawaban untuk seorang sahabat: APAKAH HIDUP HANYA UNTUK MENANTI KASIH SEJATI ???]


Apa kabar.?
rasanya memang seperti ini..aku sudah lama kenal kau. walaupun sudah lelah namun kembali lagi. Selamat datang! Benteng yang sudah tegak lalu runtuh lagi. Berkeping, menusuk setiap kaki yang melangkah, mengalirkan darah segar, membuat nanah dan membaui semua lalat-lalat pamangsa bangkai. Teriakan pun ta’ mampu menyatukan matahari dengan bulan. Hanya ada angin yang berhembus dan tertawa membahak. Lalu mendung yang menyumbangkan petir.
Berlari dan berjalan, pelan, cepat, terburu-buru
uraian rambut menyelimuti hati, bergerak pelan mengikuti irama langkah kaki, kadang setiap helainya memisahkan diri dari kelompoknya karena sapaan angin nasib dan polusi takdir
terus melangkah menemani embun-embun yang menitik pada sepasang pipi
embunnya yang menitik...apakah hatimu juga dipenuhi embun, seperti selimut tebal yang selalu menutupinya merenungi kehidupan hari tadi, dan lalu...
hanya ada penutup pilu yang membungkus hati dan keinginannya, rasa rindunya..
sudah lama ta’ hadir rasa itu. Tatap mata dan semua ternyata hanya kebohongan. Hanya ragu dan harus terbukti. Sudah. Ya, aku ingat. Terimakasih atas cinta busukmu.
Jak kantor 7sep 20.06


Sadarkah kalian kutukan yang melekat kuat pada kehidupan
Tentang arti sebuah cinta
Telah kualami semuanya
Berulang kali ku berada dalam cengkeraman kata cinta
Namun tak pernah ku rasakan sebuah indah dalam cawan manis
Ku habiskan waktu untuk lebih mengerti tentang itu semua, namun tak pernah ku temukan jawabannya

Tidak ada seorang yang mengatakan semua kepadaku
Seperti kini ku bercerita kepada dunia

Cinta tidak seindah kelihatannya
Tidak ada senyum hanya air mata
Dikelilingi oleh tangis bayi kecil, dan seorang suami yang harus dilayani setiap malam
Itulah cinta
Arti sesungguhnya dari keindahan surga kasih yang selama ini digambarkan

Tidak ada sebuah kecupan hangat di bawah sinar bulan purnama
Tidak ada sebuah pelukan mesra dinaungi hamparan lautan perak langit malam
Yang tersisa hanya sebuah kepedihan