Friday, November 11, 2005

Jauh di lubuk hati terbersit kata ‘kan ku jelang…
Tak hendak menyambut namun inginnya memaksaku.
Ku coba tuk jalani, mungkin kali ini kutemukan ketulusan.
Kata demi kata terucap, tawa demi tawa terhambur, dan rayu demi rayu terserap.
Kurasakan semilir rindu dalam hati, terbersit kembali sebuah harap manis…
Sekejap semua terasa indah dan ku terbuai.
Sang waktu menentukan arti sebuah kejujuran, dan kutemukan kembali kepalsuan yang selalu merangkulku.
Kembali menjadi yang dulu dan sendiri…mungkin sudah jalan hidupku.

Hanya lelah yang terasa
Semakin kuat langkah terayun
Dan
Semakin keras waktu memaksa
ia semakin terpuruk
Pada cermin ia menatap sebuah raga
tanpa keinginan untuk meraih kekuatan

semua terus bergulir
mengganti usang menjadi baru
berjuang untuk setetes kebahagiaan
namun raga hanya dibaringkan tanpa bergeming
entah apa hendak sang pemilik

ketika sebuah lengan dijulurkan
ia berpaling dan
ketika lengan itu menjauh
ia meraung

terus berbaring tanpa asa
menunggu sesosok dalam kenangan
entah sampai kapan


(kamis 30 agustus 2001, 01.32 subuh, bdg)

Entah sampai kapan semua harus ku jalani begitu berat menggelayut di pundak ku
Setiap langkah terasa semakin membatu
Dan setiap mentari bergulir bulan ia semakin mengarat meninggalkan getir
Tlah ku julurkan lengan menuju langit kedamaian namun mega yang ku genggam
Kini hanya tinggal langkah kecil yang tersisa bersama dengan tangis ketidakberdayaan dan kepasrahan yang sarat pemberontakan


Jakarta,
sabtu 5 januari 2002
jam 11.16 malem

Detik

Detik-detik waktu merayap, berlari bersama langkah dahaga setiap jantung
dan aku memaksa tubuh ku menjajari waktu
meninggalkan semua kenangan tentang dirinya, mereka …
bergabung dalam gerombolan manusia-manusia kelaparan

kini ku hambakan nasib dan diri ku pada meja kehidupan
walau mereka terus menghembuskan udara kepahitan ku coba ‘tuk menahan
bersama dua tunggak yang kini tinggal sel-sel daging berdarah tanpa tulang

ku sunggingkan senyum di ujung bibir,
sambil terucap kata permohonan,
“Biarkan mereka bahagia dalam gelimang kemenangan atas kesengsaraan ku,
dan maka biarkan pula hati dan diri ku dingin beku membatu,
agar tiada lagi sembilu dan air mata”

Jakarta minggu 27 oktober 2002 jam 4.42 sore

& …
& … kini semua pun menjadi padu bercampur baur dalam sebuah cawan luas. Kesakitan, keperihan, kebosanan, kelelahan, semangat, dan ketakuatan yang optimis akan sesuatu namun belum tampak.
& … kepada siapa semua ini harus aku dongengkan. Seluruh dunia pun lelah melihat kekalutanku. Lalu di sini, di dalam raga yang sudah begitu ingin meludahkan seluruh isinya ke permukaan, yang terasa adalah sakit karena sebuah alur yang selalu tersumbat.
& … begitu ingin ku berdiri tegak lalu menceritakan lalu meneriakkan kepada semua yang pernah singgah dalam hidupku bahwa aku benci dan lelah menjadi sebuah pion dalam pencaturan kehidupan mereka.
& … aku saksikan mereka tertawa melihat ketersungkuranku. Dendam mereka yang terbalas. Karena aku menyayangi mereka dengan memenuhi seluruh relung hatiku.



Cinta ku pada mu
Lebih dalam dari lautan
Lebih luas dari hamparan
samudera
Lebih tinggi dari burung-burung yang melayang menuju angkasa
Lebih hangat dari birunya langit
Lebih indah dari rangkaian bintang
Kasih ku,
melebihi
Apapun



Kan ditempuh semua gunung dan lembah tinggi


Siang dan malam kan terjelang
Hanya tuk menanti setitik cinta pelita hati


Sebuah lilin abadi yang tak habis ditempa waktu

Cinta ku,

Hanya lewat sebuah tulisan tertuang rasa ku

Hanya dengan berbaris-baris kata ku ucap rindu ku …

Janji dan doa terus mengalir,

Mewakili jiwa ku yang semakin haus berharap belaian lembut mu

Cinta ku,

Malam-malam tetap sunyi

Abadi berselimutkan kebekuan

Menyanyikan lagu sepi

Seakan mengerti damba ku

Menemani rindu ku …

Hanya bagi diri mu … !

Cinta ku …

Je t’adore !!! …

Senin 31 Agustus 2002, jak, jam 12.19 malem

bunga terindah

masih kuat kurasakan
badai jiwa sarat pemberontakan
kekecewaan-kekecewaan membanjir tanpa jawaban
harapan yang hancur berkeping-keping hilang terbawa angin waktu
menyisakan rasa

semakin kuat kurasakan semilir dendam membelenggu hati
membalur raga
mengaliri rasa kalahku
memenjarakan semangatku

& kutatap sungai perak sunyi namun tersenyum membisiku: “bunga yang terlambat mekar adalah bunga yang paling indah di antara yang lain”

jak mg 8 nof 2002 jam 9.40 malam

Belum lama hitungan hari kemarin
Sebongkah harap berusaha menjanjikan damba ku
Untuk sesaat aku tersenyum
Dan mulai berharap

Dan semua
Kembali
Seperti biasa

Harusnya ku tahu
Bahagia bukan milik ku

Aku menangis lagi
Walau tlah lelah
Dan ta’ ada lagi sisa air mata

Memang ini lah takdir ku …


Jakarta September 20, 2002 jam 11.28 malem

Andai semua dapat kembali ke masa lalu…Andai mampu ku putar balik jarum waktu…Andai aku masih di beberapa tahun yang lalu…Mungkin senyum nya kini hanya milikku…,Mungkin lengan kokoh nya sedang merengkuhku kuat…,Mungkin kasih nya tertuang bagiku…Namun hanya sebatas mimpi…Yang tak pernah mungkin terwujud…

Berulangkali kucoba untuk menghilangkan semua kenangan…Berulangkali semua menjadi keping-keping kegagalan…

Tak mungkin ia pergi dari ku…Hanyalah sebuah omong kosong ketika beberapa hati datang mencoba meraihku…Seakan berjanji untuk membantuku melupakan dirinya
Dan aku kembali terpuruk, sendiri, dalam lembah kerinduan…

Semakin dalam ku kubur semua kenangan…Semakin kuat bayang nya melekat dalam nafas ku…

Ku memohon agar lepas dari semuanya…
Ku memohon…
Agar tenang ku langkahkan kaki menuju masa depan…
Mencari sepotong hati lain…

Aku terpuruk saat seseorang berniat mengisi hari ku dan menghapus kenangan pahit di masa lampau…
Perlahan namun pasti aku berpaling menuju dirinya

Kini yang ku lihat hanya aku yang kembali tersungkur
Jarak yang terbentang dan waktu yang terus berlari tidak mendengar teriakanku
membantu kepergiannya.
Hanya rindu yang kini ku rasa
tanpa daya untuk memenuhi dahaga ku.

Mungkinkah ia juga merasakannya?

Semakin hari ku cemas berharap semua kembali seperti dulu..
walau,
ia semakin melangkah meninggalkan diriku sendiri,
berkawan kenangan dan semua pertanyaan yang hingga saat ini tak kan pernah terjawab…

(minggu, 2 sept 2001, jam 20.04 malem, bdg)

Aku masih mendambakan mu, kasih ku …
Meski kau tak lagi menghiraukan aku

Sejuta malam bulan purnama bertkhta lautan perak masih terus ku puja
Demi angan dan mimpi yang telah ku gantungkan pada damba kehidupan ku

Langkah demi langkah pahit ku lalui
Nafas demi nafas rindu tetap ku hembuskan
Berharap kau kembali menyapa ku

Berbaris nama ‘tlah singgah pada pasir kehidupan ku
Pula tak terhiraukan seribu pasang lengan kokoh yang terjulur meraih ku
Menjanjikan hasrat cinta

Tetap ku mendambakan mu
‘tak kan sirna semua damba bisu yang telah tertanam kuat dalam jiwa ku

hanya kau yang ku ingin
hanya kau yang ku harap
karena
hanya kau yang ku rindukan …



senin 31 agustus 2002 jakarta jam 11.48 malem

Thursday, November 10, 2005

Aku ingin kau …
Kau !
Hanya kau … !

Bukan dia !
Bukan mereka !
Tetapi kau … !

Berhenti …
Berhenti dalam langkah mu …
Berhenti berlari dari ku … !

Karena aku tak miliki lagi daya
Karena aku kian lemah
Walau jiwa ku semakin kuat merindukan mu
Namun ragu kini mulai merayapi ku
Bertakhta kini seribu pertanyaan pada diriku:

Mungkin kah semua damba kan kelak bersenandung kemerduan wangi kehidupan
Mungkin kah harap ku pula milik mu …
Mungkin kah …
Mungkin kah …
Mungkin kah …

Dan semua kenangan,
masih kah milik mu,
aku,
kita berdua …



senin 31 agustus 2002 jakarta jam 11.59 malem