Monday, December 12, 2005





sebuah surat untuk baginda raja
Baginda rajakuw yang tercinta,

Kemarin seribu daun kering meniupku dan hanya menyisakan selembar angin dengan timbunan es yang mulai setengah mencair. Di atas lempengan tangan berbekas garis merah sisa tamparan maya yang menusuk sampai dasar lima jari.

Kemarin seribu daun kering meniupku dan hanya menyisakan selembar angin dengan timbunan es yang mulai setengah mencair. Di atas lempengan tangan berbekas garis merah sisa tamparan maya yang menusuk sampai dasar lima jari. Aku terus berjalan bersahabat dengan sang ratu psikopat yang semakin hari semakin sakit. Ragu ta’ ada dan hanya sebuah yakin bahwa ratuku akan sembuh semakin hari.

Kemarin seribu daun kering meniupku dan hanya menyisakan selembar angin dengan timbunan es yang mulai setengah mencair. Di atas lempengan tangan berbekas garis merah sisa tamparan maya yang menusuk sampai dasar lima jari. Kini kutinggalkan sang ratuku. Seribu dokter jiwa mengangkat tangan mereka, dan meninggalkan kami. Ratuku menancapkan sebuah pisau di jantungku. Nafasku hanya tingal satu dua hembusan. Ratuku berlari-lari mengelilingi taman, memainkan balon, dan menggeret boneka. Memuntir-muntir tali loncat, dan melemparkannya ke atas. Berloncat-loncat meraih udara dan berteriak-teriak dengan tawa lebar. Menggapai lukisan di tembok hunian kami, dan membantingnya ke lantai. Memungut beling dan menorehkan pada lenganku. Teriak sakit hanya sampai tenggorokan, dan senyum tawa lebar kupersembahkan pada ratuku.

Kemarin seribu daun kering meniupku dan hanya menyisakan selembar angin dengan timbunan es yang mulai setengah mencair. Di atas lempengan tangan berbekas garis merah sisa tamparan maya yang menusuk sampai dasar lima jari.

Jumat 9 des kantor jak 16.39